Musing Mondays #2 Memorable Book from Childhood

It’s Mondaaaaaaay! Meh. It’s literally just the worst day of the week, because you just had a Sunday sleep-in or fun hangout with friends and suddenly WHAM! it’s workday, or you’re going to school. So, I’m gonna dig into my messy brain and look for a happy memory. Think dementors. Mondays are dementors. I need to conjure up a patronus. So, here… the happy memory is a book.

Dulu saya punya tetangga, mbak2 dan ibunya. Sepertinya saat saya masih SD mbaknya itu sudah lulus kuliah. Saya ga ingat mbaknya kuliah atau ga, tapi itu berarti jarak usia kami lebih dari 10 tahun. Saya setiap hari main di teras rumah mbaknya itu. Sering juga main ke rumahnya, karena mbaknya dan si ibu sangat ramah sama saya dan adik laki2 saya (adik perempuan saya masih bayi, jadi tidak ikut main2). Seingat saya, kami sering disuguhi kue atau permen. Di rumah mbak itu, ada banyak barang yang menarik untuk anak kecil, misalnya pajangan. Samar2 saya ingat pajangan2 porselen yang hampir sama dengan yang dipunyai ibu saya di rumah. Semacam2 itu. Tapi ingatan saya soal isi rumah itu, entah kenapa, sangat samar. Padahal saya saja bisa ingat kalo landlord rumah kontrakan pertama bapak-ibu saya jaman dulu punya kalkun, dan saya ingat bunyi kalkun itu walaupun sampai SMA saya ga pernah liat kalkun lagi–waktu itu, umur saya belum sampai dua tahun.

Despite my fading memory about the neighbor’s house’s interior, there’s something I remember quite vividly, even if not completely. It was a book. It was no ordinary book. Buku itu adalah buku Kumpulan Dongeng Hans Christian Andersen yang ilustrasinya dibuat oleh Paul Durand. Masa’ saya ingat sampai ilustratornya segala? Ga lah. Informasi bahwa buku itu diterjemahkan dan diterbitkan oleh Gramedia pada tahun sekian dan siapa ilustratornya saya dapat dari googling. Yang saya ingat dari buku itu adalah its lush illustrationsI remember nothing much about the stories inside that book, save for one: The Princess and the Pea.

The Princess and the Pea, Hans Christian Andersen

Cerita itu mengisahkan bahwa ada seorang pangeran mencari seorang putri untuk dijadikan istri, tetapi tidak juga menemukan gadis yang pas. Selalu ada saja yang salah dengan gadis2 yang dia temukan, dan lagi dia tidak yakin mereka adalah benar2 seorang putri. Suatu hari, seorang gadis yang kehujanan dan basah kuyup datang berteduh di kastil sang pangeran. Dia berkata bahwa dirinya adalah seorang putri. Untuk menguji kebenaran perkataan gadis itu, ibu si pangeran memberikan sebuah ujian: gadis itu dipersilakan tidur di sebuah tempat tidur yang berisi tumpukan 20 kasur. Di bawah kasur yang paling dasar, diletakkan sebutir biji kacang (pea). Paginya si gadis berkata pada pangeran dan ibunya bahwa semalaman dia tidak bisa tidur karena sesuatu yang keras di bawah kasurnya. Usut punya usut, ternyata konon seorang putri sangat sensitif sampai2 bisa merasakan sebutir kacang di bawah tumpukan 20 kasur. So, the princess and the prince get married and live happily ever after. THE END. (Synopsis: courtesy of Wikipedia)

Agak ga masuk akal memang tes itu. Dan lebih ga masuk akal lagi si putri bisa lolos. Dan setelah dipikir2, saya ga tau apa sebenarnya moral dari cerita dongeng ini. Ga seperti dongeng Bawang Merah-Bawang Putih–yang dulu selalu didongengkan Eyang Uti saya dalam bahasa Jawa–yang memberi saya moral: jangan kayak Bawang Merah karena dia jahat, tapi jangan terlalu kayak Bawang Putih juga karena dia terlalu baik dan ga bisa melawan bully.

But anyways, saya bukan mau ngomongin moral cerita dongeng itu. Saya mau ngomongin tentang bagaimana kenangan saya terhadap buku ini. Buku dongeng yang sangat klasik ini benar2 menancapkan kukunya dalam memori saya, terlepas dari fakta bahwa saya hanya bisa ingat cerita The Princess and the Pea. I remember thinking I hadn’t seen anything quite so beautiful before. I remember reading the whole book and feeling magical. Well, the book, not me. I remember thinking how nice it would be to have it, but I’m quite certain my neighbor would only let me borrow it (and she did), but not own it.

My fading memory somehow recorded the deep impact that the book had on me. It was mostly about its visual that was nothing like the magazines that my mom collected. Maybe that’s what you’re supposed to feel after reading picture books like that. The magic, the awe. I’ve always been a very visual kid. I’ve been sketching for as long as I can remember; of which oldest record was a drawing book with the brand 555 on its cover, with drawings dating from when I was 5 years old. That’s the oldest record of my early creativity that my parents collect, but is not the oldest sketches I made. So, the illustrations were akin to a revelation to me, I guess? They kind of showed me that people could make such beautiful things. And maybe one day I would.

Wah, jadi kepikiran untuk capcus ke toko buku Gramedia nih. Ga perlu beli bukunya. Cuman baca2 buku yang udah dibuka aja. Going down the memory lane gitu.

Punya kenangan lain tentang buku yang kamu baca ketika kecil? Cerita dong di blog kamu. Nanti kasih tau saya juga, pasti saya akan blogwalk ke sana.

Ikuti meme Musing Mondays ini di blog Should Be Reading.

Musing Mondays asks you to muse about one of the following each week…

  • Describe one of your reading habits.
  • Tell us what book(s) you recently bought for yourself or someone else, and why you chose that/those book(s).
  • What book are you currently desperate to get your hands on? Tell us about it!
  • Tell us what you’re reading right now — what you think of it, so far; why you chose it; what you are (or, aren’t) enjoying it.
  • Do you have a bookish rant? Something about books or reading (or the industry) that gets your ire up? Share it with us!
  • Instead of the above questions, maybe you just want to ramble on about something else pertaining to books — let’s hear it, then!

Musing Mondays

2 responses to “Musing Mondays #2 Memorable Book from Childhood

  1. The Princess and the Pea itu pernah difilmkan, di film cartoon. sy inget dulu pas kecil nontonnya. kalo ramdhan gini, banyak buku yg bisa saya baca ketimbang di luar ramadhan

What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s