Booking Through Thursday #3 Childhood vs Adult

Booking Through Thursday

It’s Thursday! Time for the Booking Through Thursday meme. Karena BTT belom posting meme untuk hari ini (di sono masih Rabu, mungkin), saya posting pertanyaan yang udah agak lamaan aja ya.  Ini pertanyaan 23 Mei:

Have your reading habits changed since you were a child? (I mean, I’m assuming you have less time to read now, but …) Did you devour and absorb books when you were 10 and only just lightly read them now? Did you re-read frequently as a child but now only read new books? How about types of books? Do you find yourself still attracted to the kinds of books you read when you were a kid?

Jelas dong ya. Saya sekarang ini ga punya waktu sebanyak dulu untuk baca buku. Waktu kuliah padahal saya juga banyak baca meskipun banyak tugas, karena sering ada tugas baca novel atau karya sastra lainnya (untuk mata kuliah sastra, tapi saya kuliah Pendidikan). Tapi selain ga punya banyak waktu untuk baca (atau hobi lain, misalnya menggambar), ada beberapa kebiasaan baca yang berubah dari sejak saya masih kecil hingga dewasa.

Perpustakaan

Tempat nongkrong masa sekolah nih. SD, nongkrongnya di perpus. Sekalian sembunyi dari anak2 tukang bully. Kartu perpus sampe penuh dan ganti saking banyaknya peminjaman buku yang dicatet. Abisnya cuman kartu kecil gitu. Di SMP, nongkrongnya di perpus. Di SMA, perpus lagi dong. Sama perpusda. Kuliah, kecuali pas bikin skripsi, cuman dateng ke perpus buat minjem. Baca mah di kosan. Kerja… perpus cuman buat numpang tidur kalo ngantuk banget. Hehe. Jangan bilang2 bos saya yah. Pengen sih punya perpus sendiri. Ato kamar yang merangkap perpus. Tapi kayaknya perlu nabung dan berdoa semoga jadi orang kaya. Eheh.

Rental Komik (Manga)

Jaman masih SMP dulu, nyari rental komik dibela2in ngangkot ke kecamatan sebelah, pinjemnya sekaligus 10-20-an komik. Bacanya pas weekend. Waktu SMA, kayaknya udah jarang pinjem komik. Ga ngerti rental komik yang asik. Yang jadi langganan waktu SMP kayaknya udah ga ada. Waktu kuliah, rental komik ada di mana2, rajiiin banget pinjem komik, ato novel kalo novel di perpus kampus udah tinggal dikit yang belum kebaca. Pas kerja… rental komik di sini ga ada. Jadinya ya donlot scanlation aja. Bacanya di Kindle, bisa sambil tidur2an. Udah enaaak.

Buku Terjemahan

Jaman dulu, biarpun jago bahasa Inggris di sekolah–ehem, sekali2 narsis, masih jarang banget baca buku asli berbahasa Inggris. Palingan buku pelajaran. Hehehehe. Di sekolah jarang2 ada novel2 bahasa Inggris. Di perpusda juga. Jadi ya bacanya terjemahan. Di kampus sih buku berbahasa Inggris, trus kuliah juga tugasnya bahasa Inggris semua (kecuali mata kuliah umum) soalnya jurusannya Bahasa Inggris, eheh. Kadang masih baca buku terjemahan sih, tapi karena suka kepentok terjemahan yang ga pas, jadi males baca buku terjemahan. Sekarang bacaan 70-80% berbahasa Inggris. Kalo ga dipake kan ntar bahasa Inggrisnya bisa “luntur”, jadi ya baca sesempetnya sebanyak2nya deh. Tapi masih berobsesi jadi penerjemah buku.

Genre Bacaan

Jaman SD tuh bacanya komik, buku2 semacam biografi mini penemu2, ensiklopedia, buku kuliah nyokap (sains), buku ajar bokap-nyokap (buku2 pelajaran SMP). Di SMP jadi kenal novel2 sastra Indonesia yang saya lupa judul2nya apaan sih? masih mudah kok pelupa. SMA jadi kenal Mira W., buku2 chicklit terjemahan, ensiklopedia mitologi Yunani (suka!), dan the amazing Mbak Dewi Lestari aka Dee. Waktu kuliah, bacaan udah semakin beragam. Udah mulai baca novel klasik (buat tugas kuliah), Harry Potter, novel2 Dan Brown, N.H. Dini, Fira Basuki, Sapardi Djoko Damono (satu buku doang sih), Agatha Christie, The Lovely Bones, chicklit juga, dan laen2. Sekarang sih jadi udah baca YA juga (trilogi The Hunger Games), erotika (Fifty Shades of Grey) hahahaha. Komik sih tetep. Manga to the bones!

Everlasting Books

Meskipun banyak jenis bacaan yang berubah dari kecil hingga sekarang, tetep aja banyak yang ga berubah:

  • Komik/manga
  • Chicklit/metropop
  • Ensiklopedia

Kisah Unik Baca Buku di Masa Kecil

Cerita ini bukan punya saya aja, tapi asal adek saya ga baca postingan ini, kemungkinan dia ga akan menjitak kepala saya karena membeberkan aibnya. Jadiii… dulu kan saya selalu bawa pulang buku pinjeman dari perpus SD nih. Pernah saya pinjem fiksi entah apa, yang mengisahkan kakak-beradik cewek-cowok masih kecil (yah, masih seumuran saya waktu baca saat itu, kelas 4-5 SD gitu) yang yatim-piatu. Kalo ga salah, mereka terus ikut sodara mereka, paman atau bibi gitu. Nah, ini kisah bawang merah-bawang putih banget (istilah saya untuk menyebut cerita apa pun di mana tokoh protagonis bener2 dibejek2 sama tokoh antagonis, dan ga berbuat apa2 untuk melawan secara proaktif dan konfrontatif). Saya sempet nangis juga bacanya.

Well, intinya adek saya ini (yang sekarang sudah keren dan cakep ngelebihin Shahrukh Khan, kata dia, ih najong) pinjem buku itu dari saya. Males ke perpus kali ya? Entahlah. Trus dia baca deh itu buku. Berhubung adek saya kala itu cengeng lebih perasa daripada saya kalo sekarang mungkin dia suka pura2 ga mengharu-biru, nangislah dia berkat cerita yang sungguh memeras keringat airmata itu. Akhirnya, laporlah dia ke saya bahwa dia trauma pinjem buku dari saya. Sejak saat itu, buku punya saya (atau pinjeman saya) yang mau dia baca cuma buku2 pelajaran dan kamus. Hahahaha.

Nah, kalo buat kamu, kebiasaan baca apa yang berubah sejak kamu kecil hingga sekarang? Untuk ikutan meme ini, tinggal langsung ke TKP: blog BTT, lalu tinggalkan link di komen untuk pertanyaan meme yang kamu jawab.

What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s