Memilih Buku Itu… Seperti Memilih Jodoh?

I was counting down the days… until the Kindle Fire is in my hands. Jadi, begini ceritanya. Seperti yang pernah saya ceritain di blog ini, saya beli Kindle Fire lewat temen yang lagi ada di Hawaii sekitar bulan Desember. Eh, atau November ya? Anyways, karena saya bingung banget mau nitip e-reader apa, sehingga mepet banget saya pesennya, jadilah barang itu kena macet Natal. Walhasil, Kindle ini baru nyampe ke tangan temen saya itu setelah Natal. Saya ga tau ga inget, kale persis tanggalnya.

Sejak Kindle itu belum ada di tangan, saya sudah langsung saja mencari e-books gratisan di Kindle Store. Menumpuk, menumpuk, dan menumpuk sebanyak2nya bacaan di Kindle Cloud Reader saya. Ga tau juga saya bakal bisa baca kapan. Sekarang saja, waktu saya sudah habis buat sekali2 nyuci kalau lagi panas dan ga males, nonton serial tapi harddisk saya yang full isi serial saat itu lagi  (dan sampai sekarang masih) rusak, dan procrastinating tidur. Ga sempet saya baca2. Kecuali manga karena bacanya cepet.

Sejak awal tahun, Kindle Fire itu sudah ada di tangan. Saya masih meneruskan mencari gratisan buku Kindle atau galley kalau sempat, tapi karena saya ga ada akses wi-fi dan belum berhasil mencoba virtual router, saya mendownload buku Kindle untuk disimpan ke device melalui komputer.

Anyways, waktu milih e-books gratisan di Kindle Store ataupun yang ga gratisan, ada beberapa kriteria yang saya lihat. Meskipun saya ga kaku2 banget milih bukunya, teteplah ada standar sendiri. Memang sih, rata2 buku2 yang ada di situ belom pernah saya temui sebelumnya, belom pernah saya dengar nama penulisnya. Akhirnya, saya hanya bisa bergantung pada beberapa hal ini (ditulis secara acak), yang sangat subjektif, bergantung pada selera dan mood saya:

Sampul

Covers 02

Menurut saya, pepatah don’t judge a book by its cover tidak selalu berlaku. Kenapa? Well… memilih buku itu seperti memilih jodoh, ibaratnya. Meskipun kita akan bilang “yang penting inner beauty“, penampilan penting juga. Kalau cover buku terlalu generik, terlalu biasa, kurang lucu, kurang elegan, ga imut, dan lain2… seperti males juga ngebukanya. Dan kadang kita juga terpanah love at first sight karena sampul buku itu.

Selain itu, karena saya suka seni eleh, sok nyeni, saya suka sampul yang artwork-nya bagus kalau pakai ilustrasi (2D/3D), atau yang fotonya bagus dan nyeni. Dan saya ga suka sampul yang serem2. Jadi, pasti saya ga tertarik buka2 buku yang dari sampulnya saja sudah membuat merinding.

Tapi saya sudah pernah menyesal judging a book by its cover. Tanpa membaca2 sinopsis/review secara detail, saya asal request di NetGalley. Jadilah ternyata saya syok dengan isi novel itu. Tapi, ya akhirnya saya baca juga sampai habis. Hahaha. Anyways, setelah saya dibolehkan mengakses galley itu, saya kirimkan ke Kindle Fire dan saya baca. Yah, memang untung2an juga mencari buku dengan jalan ngasal random seperti ini. Tak semua love at first sight berbuah love eternal.

Judul

Ini sepertinya bukan kriteria yang terlalu umum. Kata teman saya sih begitu. Tapi saya pikir judul yang provokatif, menggerakkan, mengguncang, dsb. akan menarik perhatian calon pembeli atau peminjam. Lihat saja sampul buku di atas. Heheh.

Sinopsis

Jelas plot, karakter, dan segala hal yang berhubungan dengan isi buku akan sangat mempengaruhi minat kita terhadap buku tersebut. Ketika tertarik dengan buku dari sampul atau judulnya, pasti kita akan tergerak untuk membuka sinopsis buku itu, yang biasanya ada di sampul belakang buku.

Tapi, apakah teman2 pernah menemukan buku yang mengecewakan karena tidak sesuai dengan ekspektasi yang ditimbulkan oleh sinopsisnya?

Rating

Ketika mencari jodoh, kita akan cenderung memilih orang yang track record-nya bagus, yang dibilang lumayan bagus juga sama orang2 sekitar. Milih buku juga buat saya hampir sama. Semakin bagus rating sebuah buku, semakin besar kemungkinan saya akan suka. Bukannya selera saya tinggi atau gimana. Tapi wajar saja kan memilih berdasarkan rating? Semakin tinggi penilaian orang terhadap sebuah buku, semakin besar kemungkinan isinya tidak akan mengecewakan kita.

Review

Nah, semakin banyak orang yang sudah membaca buku itu, dan semakin tinggi rating dari seluruh pembaca ini, semakin besar kemungkinan buku itu adalah buku yang bagus. Sama seperti beli bakso. eh? Semakin rame warungnya, semakin kita percaya baksonya enak. Apa pula ini vegetarian ngomongin bakso???

Genre

Genre juga berpengaruh ketika memilih buku yang ingin dibaca. Contohnya saya TIDAK mencari horor. Sebisa mungkin saya mencari fiksi yang agak lucu, romantic comedy lah. Atau sesuatu yang berbeda, misal rom-com-cum-action-cum-satir? (emangnya ada?)

Ilustrasi (terutama untuk picture book, manga)

Lexi the Fairheart

Nah, seperti yang saya ceritakan tadi, saya suka seni, terutama gambar atau lukisan. Saya sudah pasti harus milih2 ilustrasi atau gambar yang menurut saya bagus sebelum saya membaca atau membeli sebuah buku. Untuk manga atau komik, saya juga lebih ketat dalam memilih. Misalnya, saya suka sekali anime Ranma 1/2 dan Inuyasha. Masalahnya, saya ga begitu suka artwork mangakanya, jadi hingga sekarang pun saya ga mencari manga-nya. Tetapi kadang saya membaca manga yang artwork-nya ga begitu saya sukai, karena saya tertarik dengan cerita dan karakternya. Misalnya Detektif ConanC’mon, siapa ga suka manga yang satu ini?

Penulis

Dewi Lestari Simangunsong

Kita pasti punya penulis favorit. Ketika sudah menemukan penulis yang rata2 tulisannya kita sukai, pasti kita akan lebih cenderung mencari buku baru penulis itu. Saya sendiri sangat suka dengan gaya menulis dan ide2 Dee. Tujuh tahun lamanya saya menunggu Partikel dilahirkan. Tujuh tahunnnn! Mulai deh dramatis.

Saya juga suka novel2 pop karangan Meg Cabot. Ga berarti saya suka sampai tergila2, tapi saya pernah membaca sekitar 4 seri novel Meg Cabot serta novel2 lainnya sebanyak kira2 30 judul dalam waktu 2 minggu, dalam bahasa Inggris (I’m pretty fluent, so it wasn’t much of a problem–cieeeee). Itu rekor yang belom bisa saya lampaui lagi bahkan dalam periode setahun sekalipun.

Saya juga punya teman yang lumayan suka dengan buku2 karangan Dan Brown. Ga tanggung2 lagi, dia mem-preorder Inferno, novel terbaru Dan Brown yang akan terbit 14 Mei 2013 lewat Book Depository. Pasti di antara kalian juga ada yang saking sukanya dengan J.K. Rowling, langsung mem-PO The Casual Vacancy (bahasa Indonesia atau bahasa Inggris) begitu diumumkan novel kedua JKR ini coming soon.

Penerbit

Kita juga cenderung memilih buku dari penerbit yang kita suka. Misalnya, ada mahasiswa bahasa Inggris cenderung memilih kamus dari Oxford atau Cambridge meskipun juga ada kamus Merriam-Webster atau HarperCollins. Terkait buku latihan TOEFL, saya sendiri lebih suka terbitan Longman daripada Barron’s. Dalam hal ini, kriteria di bawah ini juga berpengaruh.

Layout

Layout juga kadang berpengaruh dalam proses pemilihan buku untuk kita baca atau beli. Seperti yang tadi saya bilang, saya suka buku2 TOEFL terbitan Longman. Meskipun dalam hal layout tidak jauh berbeda dengan buku Barron’s, entah kenapa tetap saja saya memilih Longman. Layout berpengaruh karena penataan halaman akan memberi kita kenyamanan secara visual. Buku dengan banyak gambar yang ditata dengan bagus, dengan pilihan gambar2 yang bagus, pasti akan membuat kita tertarik membeli. This is especially true untuk buku2 desain dan seni.

 Typesetting

Mungkin ini agak tidak biasa, tapi buat saya font kadang berpengaruh juga pada kenyamanan membaca. Untuk orang2 yang bermata minus atau plus alias agak rabun, yang jelas ukuran menjadi kriteria yang penting. Demi minus yang tidak bertambah, orang2 semacam ini akan lebih tertarik dengan buku yang ukuran tulisannya lebih besar dan jelas terbaca.

Harga

Kita cenderung membeli buku yang sesuai dengan budget kita. Bagi orang2 yang ga punya masalah keuangan lebih berdedikasi terhadap kegiatan membaca, harga buku bisa jadi bukan masalah. Akan tetapi, harga buku yang tinggi adalah salah satu penghambat berkembangnya kebiasaan membaca di Indonesia. Alasan harga inilah yang membuat orang Indonesia lebih tertarik meminjam buku di perpustakaan atau rental.

Hmm… sepertinya untuk saya kriteria di atas sudah cukup menjadi pertimbangan ketika akan membeli/meminjam sebuah buku. Memang banyak yang harus dilihat ya. Semacam mau cari jodoh saja, pake menyaring dari segi bibit-bebet-bobot-nya. Soalnya, kalau salah saring, bisa2 menjadi trauma. Seperti my baby bro yang nangis gara2 baca buku yang saya pinjem dari perpus, dan ga mau lagi baca buku pinjeman yang saya bawa pulang… not until he was mature enough untuk move on dari trauma itu. But that’s another story for another time.

Nah, bagi teman2 adakah kriteria lain? Apakah teman2 punya pengalaman memilih buku yang unik?

12 responses to “Memilih Buku Itu… Seperti Memilih Jodoh?

  1. Wah, ternyata kakak juga pernah bikin ini ya😀

    Aku pernah kecewa karena sinopsis-ralat deh, SERING! #enggaksantai :))

    Aku juga yang termasuk liat ilustrasi-nya. Cute ->masuk cart. Kaku ->lempar😛

    Terus terang, aku malah super jarang beli buku dan cek review/rating dulu. Kalau tertarik, ambil aja, hehe. Nyeselnya belakangan, hahah..

    Typesetting sama font, hmm..enggak terlalu ganggu aku sih.

    • Bikin dong. Hahaha.

      Sinopsis kadang ga mencerminkan isi, tapi itu salah satu cara kamu tau isi bukunya bakal menarik buat kamu ato ga. Dari situ bisa keliatan genrenya juga sih kadang.

      Typesetting itu untuk tertentu aja sih. Misal, ternyata aku ga suka paperback yang fontnya gede2 banget. Jadi berasa buanyak banget yang dibaca & boros kertas.

  2. Wah mantap opininya mba’.setuju bgt kalo milih buku tuh kyk milih jodoh,biarpun best seller,kalo gak nendang di hati, males bacanya.Wih aku seneng krn ada temennya dlm milih font,hehee.Btw aku kalo milih buku,selain dari yg dah disebutkan diatas,aku jg liat gaya menulisnya.Aku suka yg konsisten,dan jelas.Misal,genrenya sastra,penulisannya sastrawi bgt sampe akhir,atau genrenya komedia,style mennulisnya casual,fun dan lucu.Pernah dpt pengalaman buruk beli buku hny gara2 best seller,pas baca,cuman sampe 7 lembar doang.Penulisnya yg katanya motivator,bikin bete.Narsisnya minta ampun,udah gitu hampir disetiap lembarnya diisi dgn arahan biar qt ikut seminarnya,yaelaaah.Beli buku gak cukup apa?

    • Hai Dhida. Hahaha. Emang milih buku itu susah juga sih ya.

      Jarang yg ngomongin font ketika milih buku, tapi utk buku2 jenis tertentu, terutama yg visual bgt, font lumayan penting sih. Font judul juga kadang ngaruh, utk sampul2 yg dominan judulnya (gede2).

      Hahaha. Makanya aku males dan ga pernah baca buku2 motivasi. Justru dia menjual seminarnya lewat buku itu kan?

      Dulu aku suka baca Fira Basuki utk novel metropop. Sama Dewi “Dee” Lestari, yg sampe sekarang aku ngefans berat krn gaya nulisnya aku suka bgt. Lugas, ga romantis lebay, dan cerdas. Sejak baca AYCE, aku lumayan suka Christian Simamora, tapi belom coba baca novel dia yg lainnya. Yg aku suka banget dg genre mirip2 (romance, karakter2 dg percakapan seru-asik-gaul-lucu) adalah Marriageable by Riri Sardjono, yg mau aku review di sini tapi belom sempet.

  3. hai ka widi salam kenal ka
    kalo aku pilih novel berdasar
    1. Ilustrasi cover nya,, suka banget sama illustrator harry potter in America version
    2. siapa penulisnya, aku suka sama banyak novelis 
    3. penerbitnya apa , kalo aku biasanya sih Gramedia, mizan , gagas media atau terrant books
    4. Ini yang paling penting nih,,, HARGANYA BERAPA hehehehe😀 aku biasanya beli buku di pusat buku Blok M square atau kadang kadang di Kwitang atau juga kalo lg ada pameran buku aku suka beli di istora senayan dan juga terkadang beli online. Aku jarang sekali beli di toko buku besar akhir2 ini soalnya mahal.. hehehe lebih suka diskonan kalo bias gratis😀

    PS: aku send message ke akun Goodreads ka widi lho 

  4. Nice share mbak, kriteria kita hampir mirip.
    Tapi aku urutannya gini, :
    1. Penulis, gak peduli apa aku selalu ngoleksi karya-karyanya Dee (toas mbak, dan keping terakhir di buku partikel sukses bikin saya gak sabaran [lagi] mumgguin gelombang), Tere Liye, Khaled Hosseini (eh bukunya yang baru itu udah ada ebook gratisannya belum ya :D),
    2. Cover dan Judul, setuju banget mbak. Sometimes we need to judge a book from its cover. Walau sesekali sempat nyesel juga.
    3. Sinopsis back cover. Saya selalu kepincut nih sama back covernya terbitan gagasmedia
    4. Harga,😀
    5. Rating di GR

    • Makasih.😀
      Q sih bingung juga urutannya gimana. Tapi yg penting keliatannya penulis, sampul+judul (ini karena biasanya suka terjadi love at first sight (cieeeee), sinopsis+rating, trus harga. Waaaah, kepikiran istilah ini; postingan diedit lg aaaah dasar editor.
      Ato sebenernya, duit itu pengaruhnya di depan. Ga peduli bukunya bagus ato ga, masalahnya adalah lg mo ngeluarin duit ato ga. Hahaha.

  5. Pernah, suatu kali aku melihat profil penulisnya. Emang sih belum terlalu familiar, tetapi di sana dikatakan dia orang yg sudah berpengalaman dalam di dunia tulis-menulis. Dan sudah sering masukin tulisannya ke media. jadilah kubeli novelnya, tapi ternyata tak seindah bayanganku. Novelnya nggak banget…😦

  6. Hello, Widi. Wah, menaik sekali ulasannya. Aku jadi pengen beli Kindle deh. Untuk mengomentari tulisan Widi, aku pake kebiasaanku milih buku di toko buku (berhubung blm punya Kindle :))
    Aku biasanya milih buku karena, 1) Sinopsis, klo di sini istilahnya review ya. Soalnya, yang akan kita baca adalah kontennya jadi ini wajib jadi prioritas. 2) Penulis, Ake beli buku suka lihat siapa penulisnya dulu, karena tau kualitas tulisannya, jadi nggak akan kecewa dengan apa yg akan dibaca. Ini lebih kepada pingin tau lagi apa yang ingin dibicarakan lagi oleh penulis itu di buku barunya. 4) Genre, ini sudah jelas. Setiap orang akan membeli buku berdasarkan kecenderungan terhadap ide, tema, atau jenis alias genre sebuah buku. Segimanapun orang bilang itu buku bagus, klo itu bukan genre-ku akan tak akan baca apalagi beli hehehe… Paling baca review-nya doang. 5) Harga, ini ngaruh banget terhadap keputusan untuk memiliki buku itu atau tidak. Klo bukunya bagus tapi muaahal, dijamin nggak akan langsung dibeli, bisa-bisa diundur, atau mending minjam di perpus atau baca di toko buku aja, hmmm…klo temen punya mending pinjam temen🙂. 6) Judul, judul ini penting untuk penarik saja, terkadang ada buku yg judulnya nggak mencerminkan isinya, jadi ketipu deh. Jadi, liat isinya lebih penting daripada judul. 7) Sampul (cover), ini pilihan yang nggak terlalu signifikan. AKu nggak terlalu mengurusi gimana sampul sebuah buku, tapi ya jangan jelek-jelek amatlah. Masa isinya bagus cover-nya amatiran😀. Yak, itu dulu deh komentarku.

    • Makasih, Mb Rusyda! Suka bgt nih q sama komen panjang begini.
      Itu urut ya?
      Pernah ada pengalaman unik soal memilih buku? Aku ada tuh pengalaman jelek judging a book by it’s cover (tinggal klik hyperlink).

What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s