Review #1 Beautiful Bastard – Christina Lauren (ID)

Beautiful Bastard
oleh Christina Lauren
Seri: Beautiful Bastard #1
Format: e-book
Penerbit: Gallery books
Negara: Amerika Serikat
Terbit: 12 Februari 2013
ASIN: B009UVCYLS
Bahasa: Inggris
Terjemahan (Indonesia): Tidak ada
Genre: Fiksi, erotika
Link: Amazon, Goodreads, Wikipedia
Situs penulis
Sumber e-book: NetGalley (archived 12 Februari 2013)
Ratingku: * dari *****

Saya dapat novel ini secara gratis dari situs NetGalley setelah request saya disetujui. Kenapa milih novel ini? Well, you could say, I judged the book by its cover. Sampulnya menarik. Monokromnya kontras dengan warna merah. Plus, font judulnya sendiri juga kontras. Beautiful ditulis dengan font cursive (bersambung), slanted (miring), dan manis, sedangkan Bastard dengan font yang lebih gritty. Saya suka kedua tipe font itu. Saya pikir, “Oke, mungkin isinya semenarik sampulnya.” I couldn’t be more wrong.

Saya tidak membaca sinopsis dan review-nya secara detail. Tapi dari sinopsisnya, saya membayangkan akan akan banyak witty banter antara si bos dan asisten. Memang harusnya I approached with caution, karena dalam salah satu review, dikatakan: “The perfect blend of sex, sass and heart, Beautiful Bastard is a steamy battle of wills that will get your blood pumping!” (S.C. Stephens, bestselling author of Thoughtless) atau kurang lebih “racikan seks, kelancangan, dan perasaan yang sempurna”. Sayangnya, review itu tidak ada di halaman sinopsis Beautiful Bastard di NetGalley (dan mata minus saya tidak melihat jelas kata-kata ini di sampulnya), jadi saya pikir ini bukan erotika, toh XXX tidak bisa lepas dari novel-novel Barat. Jadi, kalau ada adegan XXX pun, biasa saja. Once again, I couldn’t be more wrong.

Beautiful Bastard ini setelah dibaca, genrenya mirip dengan Fifty Shades of GreyWell, jelas saja, novel ini kan awalnya fanfiction Twilight yang judulnya The OfficeO-kaaaay. Saya tidak tahu itu sebelum baca beberapa halaman awal novel ini. Jadi bisa dibilang saya meneruskan baca karena ingin membandingkan dengan Fifty Shades. Don’t get me wrong, saya ga suka Fifty Shades, tapi menurutku, gejala fanfiction-turned-novel ini menarik juga untuk diamati. It turns out, curiosity kills the cat… atau lebih tepatnya… my mood.

Anyway, novel ini menceritakan tentang Chloe Mills, asisten magang yang sudah bekerja 6 tahun di Ryan Media, sedang kuliah S2 untuk mendapat gelar MBA, cerdas, efisien, cantik, seksi. Dia bekerja di bawah Bennet Ryan, eksekutif muda, anak pemilik perusahaan, baru saja kembali dari Perancis setelah bekerja sebagai eksekutif marketing di L’Oréal, perfeksionis, tampan, seksi. Interaksi mereka terbilang buruk walaupun tidak mengganggu kinerja, karena mereka benar-benar saling benci. Ternyata, kebencian mereka satu sama lain itu adalah semacam foreplay yang menyembunyikan ketertarikan (terutama seksual) mereka pada satu sama lain. Saya menghabiskan literally 75% (karena di Kindle Fire saya bisa keliatan persentasenya) dari keseluruhan novel cuma baca foreplay mereka ini. Sampai sekitar 75% itu mereka sama sekali ga sadar kalau sebenarnya mereka saling tertarik. I’m rolling my eyes here, dudes.

Ketertarikan mereka ibarat gaya tarik magnet kutub selatan dan utara. Fatedinevitable. Tapi tidak ada hal lain yang lebih dalam yang menghubungkan kedua karakter ini. Bennet yang perfeksionis dan demanding mungkin tertarik pada Chloe karena si asisten tidak seperti tipe-tipe cewek yang tertarik padanya karena hal-hal superfisial: ketampanan, kemapanan. Mungkin karena Chloe menjalankan fungsinya sebagai asisten dengan sangat efisien meskipun dihadapkan dengan sikap si bos yang… ga banget. Tapi dari setidaknya 75% isi novel, saya simpulkan ketertarikan mereka lebih bersifat, ehm… seksual.

Sebenarnya penulis (yang ternyata adalah dua orang bernama depan Christina dan Lauren, yang lalu digabungkan) bisa saja (could have, but didn’t) lebih menggali kedua karakter ini. Chloe adalah karyawan magang (intern) yang cerdas dan cekatan. Dia punya latar belakang yang bisa dikembangkan: ibu baru saja meninggal, ayah terkena tumor. Well, mungkin bakal jadi latar melodrama Nicholas Spark-y, tapi yang jelas bisalah dibuat muatan psikologis yang bisa lebih ditonjolkan dari Chloe. Maybe I’m a sucker for deep, psychological inner conflicts. Tapi tidak bisa dipungkiri, memang substansi semacam itulah, the darkness of human nature, yang sering membuat cerita menjadi lebih berbobot, lebih dalam. Or that’s just me.

Bennet di sini tidak punya konflik selain dengan ketertarikan (seksual) terhadap Chloe. Satu-satunya deal breaker adalah bahwa ketertarikan mereka berakibat buruk bagi karier Chloe. Kredibilitasnya akan hancur jika rumor beredar bahwa dia mendapatkan posisi dalam projek Ryan Media karena dia bekerja “di bawah” Bennet (ahem, ahem!). She would be sleeping her way around to the top. Buat Bennet, tidak ada masalah besar kalau “hubungan” mereka diketahui publik. Toh dia bukan presiden atau senator.

Di sinilah saya melihat benang merah antara Beautiful Bastard dan Twilight: ketertarikan yang tak terbendung, cinta si heroine terhadap si hero berimbas negatif pada aspek kehidupan si heroine. Dan seperti pada novel asli yang mendasari pembuatan novel ini, saya tidak merasa ketertarikan yang akan menjadikan saya salah satu penghuni fandom-nya. Jadi, saat novel kedua (Beautiful Stranger) terbit Mei nanti, sudah pasti tidak akan saya cari. Biarpun seri ini akan jadi booming sampai-sampai kabarnya akan diangkat ke layar lebar oleh Constantin Film. Kalau kamu tertarik untuk membaca novel ini, saya sarankan untuk membacanya tidak untuk mencari substansi. It’s mostly about sex.

Disclaimer: Review ini adalah pendapat subjektif yang sangat dipengaruhi oleh selera penulis, tidak mewakili opini umum terhadap novel yang di-review.

What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s